You are here
Home > Kesehatan > Lapar… Apakah Dipengaruhi Faktor Fisiologis atau Psikologis?

Lapar… Apakah Dipengaruhi Faktor Fisiologis atau Psikologis?

lapar
lima kasturi

APAKAH LAPAR ITU ADALAH FAKTOR PSIKOLOGIS??
.
.

Sebagian iya. Nafsu makan atau Lapar adalah fungsi fisiologis dan psikologis.

Regulasi nafsu makan kita dipengaruhi oleh 3 area di otak kita:

– HIPOTALAMUS sebagai pengatur hormon metabolisme
– SISTEM LIMBIK sebagai pengatur dopamin (salah satu hormon kebahagiaan)
– OTAK BELAKANG sebagai pengatur kegiatan bawah sadar dan kebiasaan
plus, ditambah juga dengan panca indera kita.

Pada zaman batu dahulu ketika makan adalah survival activity, hipotalamus mungkin adalah bagian otak yang paling dominan mengatur nafsu makan karena makan bagi masyarakat purba hanya seputar metabolisme saja.

lapar

Ada 2 hormon nafsu makan yang diatur keseimbangannya oleh hipotalamus yaitu leptin (alias hormon kenyang) dan ghrelin (alias hormon lapar). Ketika kita sudah cukup makan, hormon leptin akan dikeluarkan sehingga kita merasa kenyang. Sebaliknya bila perut kita kosong, hormon ghrelin yang akan dikeluarkan sehingga kita merasa lapar.

Tetapi seiring dengan berjalannya evolusi dan kemajuan zaman, sistem limbik dan otak belakang yang mengatur nafsu makan kita ikut berkembang juga. Berikut hal-hal yang diatur oleh kedua sistem ini, plus panca indera kita yang membuat nafsu makan bersifat psikologis, tidak hanya fisiologis.

Saya mulai dari panca indera. Jelas panca indera kita sangat mempengaruhi nafsu makan dan rasa lapar kita. Tentu sudah sering terjadi ketika kita melihat iklan orang sedang menyantap hamburger dengan ekspresi teatrikal seakan-akan hamburger itu lezat sekali, ditambah suara-suara “Yuummm…mmm”, apalagi bila ada teman yang mengomentari bahwa mereka sudah pernah mencoba dan benar hamburger itu lezat sekali, kita merasakan air liur kita bertambah, padahal hamburgernya bahkan tidak kita pegang secara fisik, tidak kita gigit, tidak kita telan.

lapar

Sudah dibuktikan melalui penelitian bahwa asam lambung manusia bisa meningkat hanya dengan melihat makanan saja, mencium makanan saja, mendengar orang makan saja, merasakan saja tanpa menelan dan bahkan hanya dengan berdiskusi saja soal makanan.[1]

 

BACA JUGA :  Air Hidrogen Dan 27 Manfaatnya Untuk Kesehatan

Dopamin. Ini adalah hormon yang dikeluarkan ketika kita merasa senang.

Contoh: orang yang baru pertama kali memakan nasi rames, bila ia suka dengan nasi rames itu, otaknya akan mengeluarkan dopamin, membuat ia merasa bahagia.

Perasaan ini akan disimpan dalam memori otaknya “Nasi rames membuat saya bahagia”, maka suatu hari ketika memori itu dibutuhkan misalnya ketika ia sedih, memori itu akan dimunculkan dan ia akan ingat “Nasi rames bisa membuat saya bahagia” maka ia akan pergi mencari nasi rames meskipun ia tidak lapar.

Ini adalah pola dasar addiction, untuk menjawab mengapa orang sering mengganti kesedihan dengan makanan, mengapa ada orang yang kalau stres berat badannya bertambah.

Sebaliknya ada juga orang yang kalau stress, berat badannya turun drastis padahal pola makannya tidak berubah, bahkan bertambah. Saat stres, otak mengeluarkan hormon kortisol, hormon ini meningkatkan nafsu makan. Tetapi karena orang stres pikirannya suka kemana-mana sehingga mereka sering makan tanpa konsentrasi, padahal sudah diteliti, orang yang makan dengan sadar penuh, istilah kecenya “mindfullness”, metabolismenya berjalan lebih baik, nutrisi yang diserap lebih maksimal dan akibatnya rasa lapar nya lebih cepat teratasi.

lapar

Loading...

Selanjutnya otak belakang yang mengatur kegiatan bawah sadar. Karena makan bukanlah lagi kegiatan penentu hidup dan mati, banyak orang membangun suatu pola kebiasaan makan sehingga makan menjadi hal yang hampir otomatis.

Kenapa ada orang yang lagi tengah-tengah kerja jam 1 siang tiba-tiba lapar padahal 1 jam sebelumnya dia baru ngemil batagor? Atau pernahkah mengalami ketika kangen mudik ke rumah nenek tiba-tiba lapar ngidam opor ayam?

Ini hampir sama dengan eksperimen Pavlov Dog (maaf bukan menyamakan manusia dengan anjing), anjing yang setiap kali mau diberi makan dipanggil dengan cara membunyikan bel. Anjing ini kemudian membangun suatu pola pikir yang mengidentikkan suara bel dengan makanan.

Maka setiap kali ia mendengar suara bel, ia langsung lapar meskipun tidak disodori makanan.
Kira-kira demikian relasi antara nafsu makan dengan psikologis seseorang. Kenyataannya yang terjadi dalam tubuh manusia jauh lebih rumit daripada yang saya jelaskan di sini tetapi mudah-mudahan artikel in bisa membuka pengetahuan anda.

 

Sumber :

The Science of Appetite

Catatan Kaki

[1] Role of thought, sight, smell, and taste of food in the cephalic phase of gastric acid secretion in humans.

[2] Why stress causes people to overeat – Harvard Health

Loading...

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top